Sep 17, 2009

Teristimewa untuk kamu ..



Forgiving someone is not always easy, especially if they have hurt us quite deeply. Very often, it’s our egos which get in the way of forgiving someone.

“It may be infinitely worse to refuse to forgive than to murder, because the latter may be an impulse of a moment of heat, whereas the former is a cold and deliberate choice of the heart.”
George MacDonald

In other words, George MacDonald is saying that to refuse to forgive is worse than murder and a COLD and DELIBERATE choice of the heart!! The words Cold and Deliberate strikes me, and really made me sit back, think and reflect. It made me think about the times I found it so difficult to forgive someone immediately.

Over time and through experience, we learn that in effect it’s better for us to actually forgive a person than to carry resentment in our hearts. I recall one of our beloved sheikh saying how our emotions are heavy baggage and prove to be obstacles in our journey to Allah subhanahu wa’ ta’ala . The lighter our bags, the quicker we shall reach Allah subhanahu wa’ ta’ala; the more emotion (anger, hatred, sadness, jealousy, envy etc.) we have within us, the more it will slow down our journey to Allah subhanahu wa’ ta’ala as we will waste a lot of time dealing with and overcoming such issues. Therefore we must quickly forgive, close that chapter and move on! 

Let’s not forget, our beloved Prophet sallaAllahu alayhi wasalam was the most forgiving person, and regardless of how he was treated sallaAllahu alayhi wassalam, he was always ready to forgive. So in essence, forgiving others is the prophetic way and being the followers of our beloved Prophet sallaAllahu alayhi wassalam, it’s something that we should strive to embody within our characters. (Reminder to myself first and foremost) 

May Allah soften our hearts and may we find it easy to follow the prophetic way of forgiving each other easily. 



p/s: perkataan yang ringkas tapi padat dengan yang tersirat ..

Sep 15, 2009

Himpitan Rasa.. kembalikan semula




Sedih ..


Syahdu ..


Terkilan ..


Itu yang saya rasa.. 


Menghampiri detik-detik akhir ramadhan kali ini, entah kenapa hati menjadi terlalu sensitif, mudah terusik, tersentuh, terasa dsb. Baik pengucapan, ekspresi tubuh badan, tindakan.. semuanya mengusik hati. 

Buntu. Ada yang ingin Dia tunjukkan.. tapi saya sukar menafsirkan barangkali ..

Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un

Asif jiddan, saya mulakan entry kali ini dengan luahan rasa yang amat amat amat berat.. Bukan ini matlamatnya, tetap, perkongsian menjadi fokus utama terlahirnya entry di sini. Moga catatan peribadi lewat ceramah tempoh hari dapat meredakan hati dengan hikmahNya.





. 


Biasa dengar ayat ini ?


Bila selalunya kita guna ayat ini ?


Adakah hanya sekadar digunakan apabila menerima berita kematian?


Mari adik-adik.. kita ulangi sebutannya .. 
Inna lillahi wa inna ilaihi raji`un


Jom hayati kisah di sebalik ayat ini. Adik-adik kenal Ummu Salamah? Siapa dia?


Nama sebenar Ummu Salamah ialah Hindun binti Abi Umayah bin Mugfirah bin Abdullah bin Ibnu Makhzum bin Murrah bin Ka’ab bin Ghalib Al Makhzumiyah Al Quraisyah. Beliau adalah anak saudara Khalid bin Walid Syaifullah dan anak saudara Abu Jahal bin Hisyam. Ayah beliau adalah seorang pembesar Bani Makhzum yang termasyhur. Termasuk salah seorang kaum dermawan Arab yang terkenal, sehigga digelar Zadur Rakib. Ayahnya dengan murah hati selalu membekalkan makanan kepada para musafir yang datang ke rumahnya. Begitu juga, yang pergi bersamanya tanpa mengharapkan balasan.

Ummu Salamah r.a menikah dengan sepupunya, Abdullah bin Asad bin Hilal bin Abdillah bin Amr bin Makhzum bin Murrah bin Ka’ab bin Al Azadi r.a. Suami isteri dari Bani Makhzum dan Bani Asad ini terdaftar dalam golongan orang yang masuk islam pertama.

Suami Ummu Salamah meninggal dunia setelah pulang dari perang Uhud. Ia meninggal akibat luka parah yang dialaminya. Abu Salamah meninggalkan seorang isteri, Ummu Salamah. Ummu Salamah merasa sangat sedih. Fikiran terganggu. Ummu Salamah, seorang yang intelek tidak mahu membiarkan dirinya dirundung pilu berterusan. 

Ummu Salamah sedar Muhammad bin Abdullah, insan yang paling dekat dengan Allah itu masih ada. Balu dan ibu kepada anak-anak yang kematian ayah itu dinasihatkan oleh Nabi s.a.w berkenaan masalahnya. Nabi Muhammad s.a.w telah mengajar satu doa yang bermaksud,


“Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala atas musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya.” 



Pada waktu itu, Ummu Salamah tertanya-tanya juga siapa lagi yang lebih baik dari suaminya. Namun Ummu Salamah terus mengamalkan doa tersebut serta yakin dengan Allah yang akan memakbulkan doanya.

Beberapa sahabat Rasulullah s.a.w segera melamar Ummu Salamah. Hal ini mereka lakukan sebagai tanda hormat terhadap suaminya yang telah berkorban demi Islam. Juga untuk melindungi diri Ummu Salamah. Mereka itu termasuklah Abu Bakar as-Siddiq dan Umar bin al-Khattab , tetapi Ummu Salamah menolaknya.

Kebimbangan Ummu Salamah berhubung pengganti suaminya akhirnya terjawab tatkala dilamar oleh Rasulullah s.a.w sendiri. Inilah rupanya hasil doa dan kesabarannya. Kehilangan Abu Salamah telah diganti oleh Allah dengan sebaik-baik manusia yakni Rasulullah s.aw.

Lamaran Rasulullah s.a.w itu tidak segera diterimanya. Ummu Salamah mengungkapkan kata-kata, “Sesungguhnya saya seorang wanita yang telah berusia. Saya juga memiliki anak-anak yatim dan saya seorang yang sangat cemburu. Sedangkan anda wahai Rasulullah, memiliki ramai isteri.” 

Rasulullah s.a.w lalu berkata, “Adapun tentang sifat cemburu itu, maka Allah akan menghilangkannya. Adapun usia yang telah tua, sesungguhnya saya lebih tua darimu. Manakala anak-anak yatimmu, maka itu menjadi tanggungan Allah dan Rasul-Nya.”

Hilanglah rasa ralat di hati Ummu Salamah. Lalu diterima lamaran sebaik-baik manusia itu dengan rasa gembira. Status Ummu Salamah meningkat menjadi salah satu Ummahatul Mukminin, yang telah memberikan contoh tauladan dalam menempuh mehnah hidup. 
Adik-adik, apa iktibar yang boleh kita dapat dari Kisah Ummu Salamah ini? 

  • Sabar tatkala menghadapi mehnah dan tribulasi.
  • Doakan agar mereka yang menganiaya kita mendapat hidayah.
  • Jangan berdendam.
  • Mohon Allah jadikan kesedihan hati sebagai kaffarah dosa-dosa yang lalu serta beristighfarlah.
  • Elakkan mengadu sesama manusia kecuali untuk mendapatkan pandangan agama dalam masalah yang dihadapi.
  • Serahkan urusan mereka yang menganiaya (kecuali kes kematian pasangan) kepada Allah. Jangan sekali-kali cuba membalas perbuatan mereka kerana bimbang kita ter’over’ membalasnya. Cukuplah Allah sebagai hakim yang maha adil untuk mengadili kes mereka.
  • Amalkan doa Ummu Salamah seperti tertulis di atas.
  • Bersangka baik dengan Allah bahawa Allah takdirkan yang terbaik untuk kita dengan menjauhkan sesuatu yang akan lebih menyusahkan diri kita di masa-masa akan datang. Dalam masa yang sama, sebenarnya Allah mahu beri sesuatu yang lebih baik untuk kita. Dalam tempoh diuji, Allah mahu menilai tahap sabar, pasrah kita padaNya dan akhlak kita sesama manusia. Bila kita dapat melepasi pra-syarat tersebut, insya Allah, Allah akan gantikan dengan sesuatu yang lebih baik.
  • Jangan putus asa dari rahmat Allah.


When we are afflicted with hardships and tests, or simply do not get something we anticipated or hoped for, then the story of Ummu Salamah radiAllahu anha brings much comfort to the heart. It also encourages us to build up our own strength and increase our trust in Allah subhanahu wa tala, for surely He is the best of planners and providers.





p/s: berlumba-lumba membuat kebaikan, menghapus kemungkaran (biarkan ia seiringan!)

Sep 10, 2009

Istimewa buat pecinta Kitabullah


Sebuah nasihat terutama untuk diriku dan saudari-saudariku…”Kembalilah pada Kitabullah, Al Qur’an Al-Karim”

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:


“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk pada (jalan) yang lebih lurus.” 
(Surah Al Isra’: 9)


Rasulullah s.a.w. bersabda:


“Sesungguhnya aku tinggalkan pada kalian Kitabullah, yang jika kalian berpegang teguh dengannya, maka kalian tidak akan tersesat.” 
(HR. Muslim dan At-Turmudzi)


Apa tujuan al-quran diturunkan? Allah telah menurunkan Al-Qur’an untuk diimani, dipelajari, dibaca, ditadabburi, diamalkan, dijadikan sandaran hukum, dijadikan rujukan dan untuk dijadikan ubat daripada pelbagai penyakit dan ‘kekotoran’ hati serta untuk hikmah-hikmah lain yang Allah kehendaki. 

Ukhti adinda-adinda tersayang, fahamilah tujuan ini ..

Selamatkanlah dirimu dengan bertaqwa kepada Allah. Tanamkanlah kemahuan yang amat amat amat tinggi untuk mengambil manfaat dari al-Qur’an dalam segala hal yang memungkinkan. Letakkanlah usahamu di situ. Demi Allah, semakin kita berusaha mendekatinya, merenungi dan mentadabburi, maka semakin banyak kebaikan yang akan kita dapatkan.


Perbaikkan dan Perbanyakkanlah Membacanya

Kita disyari’atkan dan disunnahkan memperbanyak membacanya serta mengkhatamkannya sebulan sekali, namun ini tidak wajib. Seandainya kita boleh mengkhatamkannya dalam durasi lebih singkat daripada itu, maka lakukanlah kerana itu lebih bagus.


Ukhti, Tidakkah Engkau Menginginkan Pahala yang Banyak dari Rabbmu? 

Rasulullah s.a.w. bersabda:

"Mereka yang membaca Al-Qur'an dan dia mahir didalamnya maka ia bersama para malaikat pencatit yang mulia. Mereka yang membaca Al-Qur'an sedangkan ia tidak lancar bacaannya dan payah baginya untuk membaca maka untuknya dua pahala." 
(Muttafaqun ‘alaih: Hadith riwayat Bukhari dan Muslim)


Allah s.w.t. telah mengangkat darjat banyak kaum dengan Al Qur’an dan menghinakan yang lain dengannya pula. Maka apa yang telah kita usahakan agar darjat kita diangkat di sisi Allah. 

Memahukan sesuatu perkara tidak akan ada ertinya kecuali kita bangun dan bersegera untuk mencapai apa yang kita mahukan

Titipan kasih buat adik-adik juga sahabat yang Berkeinginan dan Berusaha Menjadi Penghafaz Al Qur’an

Ya ukhti, jika telah hadir perasaan yang membuak-buak untuk menghafaz Kalam Allah, semangat yang menggunung tinggi, namun tanpa dijemput-jemput, sang syaitan memanah kita dengan panahan rasa jemu, disibukkan dengan urusan-urusan lain yang menjadi penghalang, dan membuatkan hafazan al-Quran menjadi suatu yang berat, maka bacalah sabda Rasulullah s.a.w:

“Jagalah (hafalan) Al-Qur’an, demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sesungguhnya Al-Qur’an itu sangat cepat terlepas melebihi (lepasnya) unta dari ikatannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dari hadits Abu Musa r.a.)

Bagaimana untuk elakkan ikatan Unta daripada Terlepas?

Tentulah dengan mengikatnya dengan kuat kemudian menjaganya. Ukhti, Al-Qur’an memerlukan kita untuk selalu mengulang dan membacanya. Bila kita dah hafaz satu surah, selalulah mengulang-ulang bacaannya sehingga kita benar-benar menguasainya dengan mantap, lebih cantik jika kita hafaz merujuk kepada maknanya sekali. Supaya kita bukan hafaz untuk bersahaja tetapi menghafaz untuk bercinta dengan Pencipta. Jangan pindah ke surah lain, kecuali bila kita sudah menghafaznya dengan mantap.

Allah s.w.t. berfirman:

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk dijadikan pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” 
(Surah Al-Qamar: 17)


Kita boleh menghafaz di pagi hari setelah solat Subuh atau pada waktu-waktu yang lain yang senang untuk kita. Tak perlu spesifik masa. Boleh sahaja mengulang bacaan ketika solat, ketika berjalan ke kampus, hatta ketika menunggu pensyarah memulakan kelas pun kita boleh sempatkan diri mengulangi bacaan. Ia boleh dilakukan dimana sahaja tidak kira masa dan tempat selagi mana kita tahu menjaga adab-adabnya. Semuanya terletak pada kemahuan diri dan ketulusan niat kita. Jika kita serius untuk memaknakannya, dengan izinNya, Al-Quran itu menjadi suatu yang mudah untuk dihafaz.

 
Ukhti yang disayangi, semoga Allah meluruskan niatku dan niatmu. Mohonlah kemudahan dari Allah. Katakanlah pada dirimu, sesungguhnya besarnya kebaikan yang kita peroleh akan setimpal dengan kesulitan yang kita hadapi. Dagangan Allah itu teramat mahal. Takkan bisa kita dapatkan kecuali dengan kesungguhan, kerja keras dan kesabaran. Takkan ada lagi kesulitan setelah masuk syurga, dan takkan ada kebahagiaan sedikit pun di dalam neraka. Dan bukankah yang kita tuju adalah kebahagiaan abadi di dalam syurgaNya serta kenikmatan melihat wajahNya?

Ukhti, didiklah sahabat-sahabatmu, adik beradikmu, juga cahaya matamu (kelak) untuk mencintai Al-Qur’an. Sesungguhnya orang yang menunjukkan kepada seseorang kebaikan maka akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya. Maka didik dan doronglah mereka untuk membaca, mentadabburi, serta menghafaz Al Qur’an. Jika merasa jemu atau lelah dalam mengajar mereka, bayangkan balasan yang telah dijanjikan itu. Semoga semua usaha untuk mendidik mereka mendapat balasan yang lebih baik dari Allah s.w.t.

Tips Mengafaz al-Quran:

  • Kemahuan Sendiri (bukan kerana dipaksa atau terpaksa)
  • Membenarkan Ucapan dan Bacaan

    - boleh dengar kaset-kaset murattal yang di baca qari yang baik dan bagus bacaannnya atau dari mereka yang hafaz al-Quran. Wajib bagi penghafaz al-Quran untuk tidak bersandar kepada dirinya semata-mata dalam hal bacaan al-Quran beserta tajwid.
  • Buat Sasaran Hafazan Setiap Hari

    - Sebagai contoh, kita set sepuluh ayat setiap hari atau satu halaman (sesuai mengikut kemampuan), dan dilaksanakan seboleh mungkin dengan berdisiplin.
  • Memperbaiki dan Memantapkan bacaan

    - pastikan kita tidak beralih hafalan sebelum mendapat hafalan yang sempurna. Supaya dapat memantapkan hafalan di hati.
  • Menghafaz dengan merujuk satu mushaf(kitab) sahaja

    - semasa kita menghafaz, secara tidak langsung akan terbekas dalam hati dan ingatan akan bentuk-bentuk ayat dan tempat – tempatnya dalam mushaf. Bila mana kita menggunakan banyak mushaf (merubah /mengganti mushaf), maka hafalannya akan berbeza-beza dan secara tidak langsung akan menyulitkan proses hafazan.
  • Merujuk makna 

    - Memahami adalah salah satu jalan untuk menghafaz. Kita akan lebih mudah menghafaz bila kita tahu kaitan antara satu ayat dengan satu ayat yang lain, tahu sebab turunnya ayat, memahami makna yang sukar dan kenal hokum yang khusus.
  • Selalu Memperdengarkan Hafazan (disemak oleh orang lain)

    - Hal ini untuk tujuan kita perbaiki kesalahan dalam bacaan atau lupa.
  • Selalu Menjaga Hafalan dengan Muraja’ah

    - Bersabda Rasulullah SAW: 

    "Jagalah benar-benar AL-QUR'AN ini ,demi Yang jiwaku berada di tanganNya al-Quran 
    lebih cepat terlepas daripada unta yang terikat dari ikatannnya”.

  • Bersungguh–sungguh dan berhati–hati ketika menghafaz ayat yang serupa

    - Hati-hati semasa membaca/menghafaz ayat-ayat yang serupa/hampir serupa dalam lafaz. 

  • Menghafaz al-Quran bermula dari usia muda

    - Usia yang baik untuk menghafaz adalah dari umur 5-25 tahun. Menghafaz di usia muda lebih mudah dan lebih baik daripada menghafal di usia tua.

Menghafal di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, menghafal di waktu tua seperti mengukir di atas air.



Waspada Perkara-perkara berikut!

  • ‘Memeriahkan’ dosa dan maksiat

    - Sesungguhnya dosa dan maksiat akan melupakan dan menjauhkan kita daripada al-Quran. Apa yang lebih teruk apabila hati menjadi buta dari dzikrullah. 
  • Tiada usaha dan kesungguhan untuk menjaga hafalan dan konsistensi untuk mengulangi bacaan

    - Tidak mahu memperdengarkan (meminta orang lain untuk menyemak) hafalan kepada orang lain.

  • Perhatian yang berlebihan terhadap urusan dunia

    - Menjadikan hati tergantung dengan urusan duniawi sehingga menyebabkan diri terleka dan seterusnya tidak mampu untuk menghafal dengan mudah.

"Berkata Allah s.w.t.: Sesiapa yang disibukkan dengan membaca Al-Qur'an dan mengingati Aku daripada meminta sesuatu dari Aku, maka Aku akan memberikannya lebih baik dari apa yang diminta oleh orang lain. Dan kelebihan perkataan Allah (Al-Qur'an) atas perkataan-perkataan lain adalah seperti kelebihan Allah atas makhluknya." (Hadith riwayat Tarmidzi) 

"Bacalah Al-Qur'an kerana Allah s.w.t tidak mengazabkan hati yang menyimpan Al-Qur'an. Dan sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah jemputan Allah. Siapa yang mendatanginya maka ia akan merasa keamanan. Dan sesiapa yang cinta akan Al-Qur'an maka bergembiralah." (Hadith riwayat Ad-Darimy)




Adik-adik, kita pohon pada Allah agar ditolong dan dipermudahkan dalam membaca, mempelajari dan menghafal, serta mengamalkan kandungan Kitabullah. Semoga Al Qur’an menjadi pemberi syafa’at dan penolong kita di akhirat kelak. Dan kita berharap agar Allah tidak menjadikan Al Qur’an menjadi hujjah yang justru akan mencelakan kita di akhirat. Aamiin…



Alhamdulillah, tadarus kita berakhir semalam. Insya-Allah penutupnya akan diadakan pada:


Majlis Khatam al-Quran
Tempat: Masjid al-Irsyad, MMU Melaka
Tarikh/Masa: 10 Sept. 2009 (Khamis) / 9.30 malam (usai solat Tarawikh)


Jom kita meriahkan masjid ye :)


p/s: ana uhibbukum fillah ya usrati >:D<

Aug 26, 2009

Aug 21, 2009

Madrasatul Ramadhan: Pendaftaran dibuka sekarang!


Maghrib tadi, Y.M Engku Tan Sri Dato' Sri Ibrahim Engku Ngah, Penyimpan Mohor Besar Raja-Raja membuat pengisytiharaan tarikh puasa di kaca televisyen. Insya-Allah, Sabtu ni umat Islam di Malaysia akan berpeluang menikmati kembali ibadah puasa.

Berkata mengenai puasa, ada manusia yang gembira, ada yang sedih, ada juga yang mengeluh!

Bagi saya, bulan ini mengingatkan kembali akan peristiwa-peristiwa dahulu. Sinonim dengan gelarannya sebagai bulan tarbiyyah, hati saya terdidik dengan sifat sabar apabila berhadapan dengan pelbagai ujian yang Allah datangkan satu persatu, tahun demi tahun. Moga hati ini terus sabar dan thabat dalam agamaNya dan menjadi seorang yang faqih dalam ajaranNya. Moga keluarga saya juga begitu ..


“Puasa itu sebahagian dari Sabar” - Ibnu Majah



Didikan Ramadhan

Ramadhan; dalamnya terkandung pelbagai pengajaran dan pembelajaran yang dapat dipelajari secara lansung atau tidak. Tarbiyah Ramadhan akan mencorak para pencintanya agar menjadi seorang Muslim yang sejati agar apabila mereka keluar dari Madrasatul Ramadhan, mereka akan mampu mengharungi seribu satu cubaan dan dugaan di luar sana.

Apabil datangnya Ramadhan maka akan berebut-rebutlah Umat Islam membaca Al-Quran, malah cuba pula untuk mengkhatamkannya sehingga berkali-kali. Namun tahukah kita Tarbiyah Ramadhan bukan sekadar mengajak Umat Islam hanya membaca Al-Quran semata-mata tanpa mengetahui apakah intipati yang dikehendaki di dalam Al-Quran itu sendiri dan memahami konsep perintah dan laranganNya. Jangan hanya bangga kerana dapat menghabiskan Al-Quran 30 juzuk dalam bulan Ramadhan tetapi tidak mengetahui dan jahil bahawa Allah s.w.t telah memerintahkanya agar mentaatiNya dan menjauhi laranganNya dan apabila berlalunya Ramadhan kita bertukar menjadi seorang yang ‘derhaka’ kepadaNya tidak kira sama ada secara sedar atau tidak.

Jangan hanya taat di bulan Ramadhan tetapi bertukar menjadi seorang penentang agamaNya apabila berlalunya Ramadhan atau kekal berada di dalam kejahilan tentang perintahNya dalam bab ketaatan, jahil tentang laranganNya, jahil tentang perintah agar mentaati kedua ibu bapanya, jahil tentang perintah menutup aurat, jahil tentang hukum-hakamNya, jahil dalam segala-galanya . Yang tinggal hanya sekadar berbangga menghabiskan Al-Quran 30 juzuk semata-mata! Oleh itu, Tarbiyah Ramadhan bukan sekadar menekan aspek luaran semata-mata malah lebih kepada aspek kerohanian dan dalaman kerana di dalam tubuh manusia tersebut mengandungi seketul daging iaitu hati yang mengawal tubuh badan manusia. Jika elok hati tersebut maka akan elok tubuh badan dan kelakuan manusia tersebut namun jika buruk hati tersebut maka sebaliknya yang akan berlaku.

Oleh itu, semoga bulan Ramadhan ini akan dapat memberikan kita pengajaran yang melekat di dalam hati walaupun sedikit dan semoga ketaatan dan ketekunan melakukan ibadat di dalam bulan ini tidak berlalu sebagaimana berlalunya Ramadhan. Semoga di dalam bulan ini kita menjadi seorang yang taat kepada-Nya juga di bulan-bulan seterusnya dan tidak menjadikan kita taat di bulan Ramadhan tetapi penentang ajaranNya di bulan-bulan yang lain.

“Meninggalkan amalan kerana manusia adalah riak sedangkan melakukan amalan kerana manusia adalah syirik. Ikhlas itu ialah Allah menyelamatkan kamu daripada kedua-duanya.”

Golongan Orang yang Berpuasa

Puasa umum, orang yang berpuasa dengan menahan perut dan kemaluan daripada keinginan, iaitu menahan perut dari makanan dan menahan kemaluan serta apa saja yang berada dalam hukumnya dari kelazatan-kelazatan dan keinginan-keinginan nafsu. 

Puasa khusus, iaitu menahan perut dan kemaluan, beserta menahan pendengaran dari mendengarkan omongan yang tidak berguna dan apa saja yang haram didengarkan; menahan penglihatan dari melihat apa yang haram dilihat; menahan tangan dari setiap sesuatu yang dilarang oleh hukum syara', dan apa saja yang masuk dalam pengertian ini. 

Pada pokoknya, menahan semua anggota badan melakukan setiap sesuatu yang haram dikerjakan, iaitu puasa orang-orang yang soleh. Dan kesempurnaannya adalah enam perkara:

  • Memejamkan mata dari membiarkan memandang kepada apa saja yang menyibukkan hati dari mengingat Allah, dan apa saja yang dapat melupakan manusia dari mengingat akhirat. Nabi Muhammad saw. bersabda:


"Pandangan itu adalah anak panah yang beracun dari anak panah-anak panah Iblis yang dila'nat Allah. Barang siapa yang meninggalkan pandangan tersebut karena takut kepada Allah, maka Allah ta'ala 'azza wa jalla akan mem berinya iman yang akan dia dapati kesedapannya dalam hatinya". 


  • Menjaga lisan dari: ucapan yang keji, berdusta, ghibah, dan mengadu domba. Dan mengharuskan lisan untuk diam dan tidak berbicara kecuali dalam kebaikan, berzikir kepada Allah dan membaca Al Qur'an.
  • Menahan pendengaran dari mendengarkan kepada setiap yang makruh. Allah swt. telah menghubungkan orang yang mendengarkan hal yang dibenci oleh agama dengan orang yang memakan makanan yang haram dalam firman-Nya:

    "Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengarkan berita bohong, banyak memakan yang haram . . . " (Al Ma'idah : 42)

    "Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? . . . " ( Al Ma'idah : 63)


Nabi Muhammad saw. bersabda:


"Orang yang menggunjing orang lain dan yang mendengarkan adalah bersekutu keduanya dalam dosa". 


Mencegah semua anggota badan dari hal-hal yang haram dan hal-hal yang makruh, dan menjaga perut pada waktu berbuka dari makanan yang syubhat. Maka janganlah berbuka pada daging orang dengan ghibah atau pada makanan yang diusahakan dengan cara yang tidak halal. 

Hendaknya jangan banyak makan pada waktu berbuka sehingga perutnya penuh. Kerana memenuhi perut itu akan menimbulkan nafsu bahimiyyah (nafsu kebinatangan), sehingga membangkitkan nafsu syahwat yang telah tenang sepanjang hari. 

Setelah berbuka, hendaklah hatinya ditempatkan diantara berharap agar puasanya diterima oleh Allah dan khawatir jika puasanya ditolak oleh-Nya, karena tidak ada orang yang tahu apakah puasanya diterima atau tidak.  



Puasa istimewa (khusus yang khusus) iaitu menahan diri dari memenuhi keinginan perut dan kemaluan, dan menahan/memenjara hati dan fikiran dari selain Allah; sehingga tidak memikirkan sesuatupun dari urusan-urusan dunia secara mutlak, sekira apabila memikirkan sesuatu urusan dari urusan-urusan dunia dan menjauh sejauh ujung jari saja dari memikirkan Penciptanya, maka benar-benar telah berbuka puasa (puasanya batal). Puasa ini adalah khusus bagi para nabi dan para rasul as.

Buka tingkap itu

Hakikatnya dalam beramal, seorang hamba dituntut untuk memenuhkan syarat tertentu. Syarat wajib dilakukan untuk mendapatkan darjat orang yang ikhlas di sisi Allah:

Membuka dua tingkap dalam hati. Tingkap ‘ikhlas’ kerana Allah dan tingkap ‘benar’ caranya mengikut sunnah Rasulullah SAW, bukannya amalan rekaan manusia atau amalan mengikut rasa hati sendiri.


“Sesungguhnya amal itu apabila dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar caranya, maka ia tertolak. Dan jika dilakukan secara benar tetapi tidak ikhlas ia tidak akan diterima juga. Kedua-duanya mesti ada iaitu ikhlas dan benar.”


Beramal dengan amal yang berkualiti. Bukan sekadar menunaikan kewajipan, tetapi memberi pengaruh ke atas seluruh tubuh badan, jiwa dan raga. Amalan sembahyang apabila dilakukan dengan berkualiti akan melahirkan sahsiah yang berdisiplin, rajin, jujur, amanah, dekat dengan Tuhan, jauh daripada maksiat, takut kepada akhirat dan berbekal untuk perjalanan ke alam barzakh.


Ramadhan bukan bulan alasan untuk duduk lesu kerana dahaga. 
Ramadhan bukan juga bulan alasan, untuk mengurang masa berusaha.
Ramadhan adalah titik nikmat daripada Tuhan, 
untuk kita berlama-lamaan di atas sejadah, 
untuk kita mengucur peluh dalam jalan perjuangan, 
untuk kita mengasak nafsu agar ibadah, tidak lagi palsu.



Muslimin Muslimat, yok kita pakat-pakat set objektif untuk Ramadhan kali ini.




p/s: Entah kenapa, terasa berdebar-debar menanti Ramadhan kali ini.

Aug 20, 2009

Akuarium vs. Sungai


VS.



Terdapat dua golongan orang-orang yang memakai tudung. Satu seperti sebuah akuarium dan yang kedua, seperti sebuah sungai. Jangan cepat melatah kerana ini hanyalah kiasan dan insya' Allah saya akan huraikan kiasan-kiasan tersebut pada akhir artikel ini. Diharapkan tiada yang tersinggung kerana bukan itu tujuannya artikel ini. Sekadar renungan bersama.

Hah? Apa maksud sebuah akuarium? 

Cuba kita perhatikan. 'Akuarium' menurut kamus bermaksud sebuah tangki untuk menyimpan ikan hidup. Biasanya, akuarium ini adalah tertutup. Banyak sebab-sebabnya, tetapi yang paling utama adalah untuk mengelakkan habuk atau cicak masuk ke dalam akuarium lalu merosakkan kecantikkan akuarium itu. Kalau kita perhatikan, akuarium ini tak boleh ditutup penuh, kerana perlu ada lubang-lubang udara untuk membolehkan pertukaran gas yang amat penting untuk memastikan kesihatan dan kesinambungan kehidupan ikan. Akuarium juga tujuannya untuk mempamerkan ikan-ikan dan pemandangan dalam air yang indah. Setiap orang yang memandang sebuah akuarium yang cukup jagaannya akan terpersona melihat keindahannya. Seseorang boleh mengetahui berapa banyak ikan yang ada, apa jenis ikan yang ada, cantik atau tidak malah pelbagai lagi, apatah lagi kalau ada sinaran lampu yang menyinari. Air dalam akuarium pula berbeza. Kalau cukup jagaannya, nampak bersihlah air akuarium itu. Kalau tak pernah bertukar, kita pun geli nak tengok. Itulah cerita akuarium.

Bagaimana pula cerita sungai? 


Percayakah anda setiap sungai yang ada di dunia ini sebenarnya ada 'penutup'? Kalau tak percaya, carilah sungai di atas muka bumi ini yang apabila kita mendongak memandang ke atas tiada langit atau awan yang melindungi. Itulah 'penutup' sebuah sungai. Penutup ini bukan sahaja menutup, malah berinteraksi dengan sungai dengan melengkapkan kitaran air. Itulah antara tujuan 'penutup' sungai ini. Kalau dibandingkan dengan akuarium, bolehkah seseorang mengagak berapa banyak ikan atau hidupan yang ada dalam sebuah sungai? Kita mungkin boleh mengagak apakah jenis-jenis yang ada tetapi mustahil untuk kita mendapat jawapan yang tepat. Sebab apa? Salah satu sebabnya adalah sungai tidak bertujuan untuk mempamerkan segala isi hidupan yang ada di dalamnya. Air sungai pula bagaimana? Air sungai termasuk dalam kategori air-air yang bersih, maksudnya kita boleh bersuci dengan air sungai. Tapi mungkin ada yang kata, banyak juga sungai yang tampak kotor. Hah? apa hujahnya pula? Kita renung kembali, kebanyakan sungai yang kotor adalah disebabkan kesalahan manusia yang suka membuang sampah merata-rata dan sebagainya. Jadi, tidak boleh sama sekali kita nak salahkan sungai.

Macam mana, sudah dapat membuat nilaian? 

Biarlah saya nyatakan pendapat saya. Seorang perempuan yang memakai tudung sekadar untuk menunjuk-nunjuk adalah seperti sebuah akuarium. Tujuan penutupannya adalah supaya orang menganggapnya cantik, wara' bertudung. Nampak bertutup, tapi masih ada bahagian-bahagian badan yang terbuka. Mempamerkan segala perhiasan diri dan boleh dilihat oleh sesiapa sahaja. Air di dalam akuarium diibaratkan seperti hati si pemakai. Pernahkah dia mencermin hatinya iaitu membersihkan pemikirannya sebab orang boleh nampak kejernihan atau kekeruhannya. Renung kembali, sejernih-jernih air akuarium, mahukah atau bolehkah kita bersuci dengannya? Tepuk dada tanya iman.

Sungai pula dikiaskan sebagai seorang perempuan yang mahu dilindungi. Oleh itu, akan sentiasa ada interaksi diantara tudungnya dengan personaliti dirinya. Bila ada interaksi ini, dia akan sentiasa ingin membawa imej yang baik. Segala perhiasan yang ada di dalam dirinya tidak akan dipamerkan, kerana dia tahu setiap yang memandangnya pasti akan terpersona dengan perhiasan-perhiasannya itu. Air sungai yang bersih mengalir melambangkan hati si pemakai yang mahu sentiasa bersih dengan secara berterusan mencerminkan dirinya. Sebagai manusia biasa, kadangkala dia tidak dapat menahan diri dari perkara-perkara yang boleh mngeruhkan hatinya, namun dia tidak pernah lupa untuk menjernihkannya kembali, umpama air sungai yang keruh menjadi jernih semula setelah habis musim hujan.


“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan lelaki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(Surah an-Nur: 31)



Hasil canaian minda Pena Da’ie


p/s: anda pilih yang mana?

Di Jalan Dakwah Aku Menikah!


Nafsu syahwat itu seperti air bah yang turun dari puncak gunung. Barang siapa berdiri menghadangnya, maka ia akan diterjang dan dilumatkan. Barang siapa membiarkannya, maka ia bakal memporakperandakan negeri dan memusnahkan umat manusia. Orang yang berakal sihat tentu akan membuat jalan untuknya, menggali tanah sedalam-dalamnya dan mengalirkan air bah itu ke sana. Inilah yang diperbuat Islam. 
Di jalan apakah anda menikah? Terbentang pula dengan lurus dan amat luas jalan dakwah. Jalan para Nabi dan syuhada, jalan orang-orang soleh, jalan para ahli syurga yang kini telah bercengkerama di taman-tamannya: 


Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik”.
(Yusuf:108)


Hadzihi sabili, inilah jalanku, yakni ad’u ilallah, aku sentiasa mengajak manusia kepada Allah. Fi’il mudhari’ yang digunakan pada kalimat ad’u ilallah semakin menegaskan bahawa dakwah adalah pekerjaan yang sedang dan akan terus-menerus dilakukan kaum muslimin, yaitu ana, Rasulullah saw, wamanittaba’ani dan orang-orang yang mengikuti Rasullullah saw sampai akhir zaman nanti. 

Inilah jalanku, iaitu jalan dakwah, jalan yang membentang lurus menuju kebahagiaan dan kepastian akhir. Jalan yang dipilihkan Allah untuk para Nabi, dan orang-orang yang setia mengikuti mereka. Jalan inilah yang menghantarkan Nabi saw menikahi isteri-isterinya. Jalan ini yang mengantarkan Ummu Sulaim menerima pinangan Abu Thalhah. Jalan yang menyebabkan bertemunya Ali r.a dan Fatimah az-Zahra dalam sebuah keluarga. 

Di jalan dakwah itulah Nabi saw menikahi Ummahatul Mukminin. Di jalan itu pula para sahabat Nabi menikah. Di jalan dakwah itulah orang-orang soleh membina rumah tangga. Jalan ini menawarkan kelurusan orientasi, bahawa pernikahan adalah ibadah. Bahawa berkeluarga adalah salah satu tahapan dakwah untuk menegakkan kedaulatan di muka bumi Allah.


Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.
(Al-An’am:153)


Menikah di jalan dakwah akan mendapatkan keberuntungan. Di jalan ini para sahabat Nabi melangkah, di jalan ini mereka menikah, di jalan ini pula mereka meninggal sebagai syahid dengan kematian yang indah. Jalan yang tak pernah memberikan kerugian. Justeru senantiasa menjadi invesatasi masa depan yang menguntungkan di dunia maupun akhirat. 

Di jalan ini kecenderungan ruhiyah amat mendapat perhatian, akan tetapi tidak mengabaikan segi-segi materi. Di jalan ini syaitan terkalahkan oleh orientasi Rabbani, dan menuntun prosesnya, dari awal sampai akhir, senantiasa memiliki kontribusi terhadap kebaikan dan umat. 

Sejak dari persiapan diri, pemilihan jodoh, peminangan, akad nikah hingga walimah dan hidup satu rumah. Tiada yang dilakukan kecuali dalam kerangka kesemestaan dakwah. 

“Seandainya seseorang dianugerahi harta Qorun dan fisik Hercules. Lalu dihadiahkan di hadapannya 1000 perempuan jelita berikut segala keistimewaannya, niscaya dia tidak pernah berjumpa dengan kepuasan” 

(Dari buku “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”, karya Cahyadi Takariawan)



p/s: tak dapat lagi cari buku ni ..
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...